Kejang Tanpa Demam, Epilepsi kah?

Kejang memang menjadi momok yang mengerikan terutama untuk orangtua yang memiliki anak balita. Bagaimana tidak, kejang bisa mengakibatkan kerusakan sel, karena terhambatnya aliran oksigen ke otak. Sehingga kejang yang berkepanjangan dan terus menerus, bisa merusak fungsi otak dan berpengaruh terhadap kemampuan hidup manusia secara umum. Untuk itulah kita sebagai orangtua perlu mengetahui seluk beluk kejang pada anak agar bisa menyikapinya dengan tepat.

Secara umum, kejang dibagi menjadi dua jenis, yaitu kejang demam dan kejang tanpa demam.  Disini aku tidak akan membahas panjang lebar mengenai kejang demam karena informasinya bisa banyak kalian temukan di mesin pencarian. Intinya kalau kejang demam, pemicunya adalah demam. Entah itu demam yang tinggi ataupun biasa- biasa saja. Sehingga salah satu solusinya adalah dengan menurunkan suhu tubuh anak yang sedang kejang. Sementara kejang tanpa demam, butuh penanganan yang lebih kompleks.


Kejang Tanpa Demam, Epilepsi kah?

Kalau menurut yang aku baca di website IDAI (Ikatan Dokter Indonesia), jika seorang anak mengalami kejang berulang 2 kali atau lebih pada episode yang berbeda dan tidak ada penyebab lain (unprovoked seizure), maka anak tersebut sudah dikatakan epilepsi. 

Karena itu, kali ini aku ingin berbagi tentang kejang tanpa demam yang pernah beberapa kali dialami anak perempuanku, Jenna. Oya, sebelumnya, ketika umur Jenna 2 bulan, dia sudah pernah di diagnosa epilepsi setelah dokter syaraf di kota kelahirannya di Bandung  melihat ada gerakan-gerakan yang sedikit tidak wajar ketika dia tidur, dan hasil  Elektroensefalografi (EEG)  -nya ketika itu memang menunjukan adanya gelombang epileptiformis sehingga saat itu dia sempat mengkonsumsi Obat Anti Kejang (OAE) jenis barbital selama kurang lebih dua bulan.

Setelah umurnya 3 bulan, aku kembali ke kota asalku, sehingga aku mencari dokter syaraf anak di Tangerang Selatan. Kali itu aku berkonsultasi dengan dr. Setyohandryastuti di Klinik Anakku BSD, sebuah klinik tumbuh kembang untuk anak berkebutuhan khusus. Oleh dr. Handry, Jenna disarankan EEG ulang dan Alhamdulilah hasilnya sudah normal. Sehingga ketika umurnya 7 bulan, Jenna resmi bebas dari konsumi OAE.

Setelah itu aku sama sekali tidak pernah lagi memikirkan soal kejang ini sampai pada bulan Agustus 2014, ketika kami sedang tidur, tiba-tiba aku terjaga karena seperti mendengar suara mengecap aneh dari arah Jenna yang ketika itu seharusnya sedang tidur.

Ketika kubalikkan badannya, ternyata matanya mendelik ke arah kanan dengan mulut yang juga miring ke kanan dan mengeluarkan air liur banyak sekali. Aku yang panik langsung berteriak membangunkan suamiku. Waktu itu aku pikir Jenna kena stroke.Karena kupanggil-panggil pun dia seperti tidak sadar.  Langsung tanpa pikir panjang kami bawa Jenna ke Unit Gawat Darurat (UGD) di RS. IMC Bintaro.

Oleh dokter jaga disana, Jenna diberi OAE lewat dubur namun tak kunjung ada perubahan. Barulah ketika oleh dokternya dibuka paksa mulutnya, secera reflek dia seperti memuntahkan sesuatu yang ternyata lendir yang cukup banyak disertai potongan makanan yang tidak tercerna, dan akhirnya menangis tersadar.

Ketika itu dokter UGD menyimpulkan bahwa kejang yang terjadi dikarenakan Jenna tersedak potongan makanan ketika sedang tidur, sehingga menghambat jalan nafasnya. Setelah kejadian itu, aku juga belum terlalu 'ngeh' dengan kejang ini. Hanya saja untruk menghindari tersedak, aku selalu meminta Jenna minum air putih yang banyak sebelum tidur.

Namun ternyata setahun kemudian, kejangnya berulang. Dengan ciri-ciri yang sama dan terjadi saat dia sedang tidur. Karena berfikir kali ini pun penyebabnya sama, maka aku dan suami berinisiatif membuatnya muntah. Tapi ternyata setelah muntah, tidak ada potongan makanan seperti dulu, hanya saja memang dahaknya teramat kental. Dan setelah muntah kejangnya langsung berhenti disertai dengan badannya yang lemas sehingga dia kembali tertidur.

Kali ini, aku berinisiatif membawanya ke dokter syaraf anak di Tangerang Selatan, yang sebelumnya menangani Jenna.  Namun karena waktu itu dr. Handry sedang tidak ada jadwal praktek, aku baru berkonsultasi sekitar 3 hari selepas kejang keduanya itu.

Ternyata dr. Handry pun tidak bisa memberikan diagnosa tanpa ada hasil EEG. Sementara, EEG hanya efektif dilakukan setidaknya 24 jam setelah kejang. Sehingga kali itu, dokter Handry hanya meresepkan obat anti kejang Stesolid yang fungsinya menghentikan kejang dan penggunaannya dimasukan melalui anus. Selain itu beliau memberikan surat pengantar untuk melakukan EEG di RS. Eka Hospital jika sewaktu-waktu Jenna kejang lagi, sehingga EEG bisa langsung dilakukan setelah kejang tanpa perlu meminta lagi surat rujukan.

Alhamdulilah setahun kembali berlalu tanpa kejang. 

Namun di bulan Oktober 2016, Jenna kembali mengalami kejang untuk ketiga kalinya. Dengan kondisi yang sama, ketika kami semua sedang tidur dan dia senang dalam kondisi flu yang berdahak banyak. Namun bedanya, kali ini selain kejang di bagian wajah, tangan kanannya juga ikut kejang. Kali ini kami lebih sigap sehingga sempat mereka adegan kejangnya kurang lebih satu menit. Setelah itu kami mencoba memuntahkan Jenna seperti dahulu ketika kejang kedua. Namun kali ini dahak yang keluar hanya sedikit. Dan kejangnya tidak berhenti. 

Teringat Stesolid yang ada di kotak obat, langsung kuambil dan untunglah belum expired. Ketika stesolidnya kuberikan lewat anus, memang efeknya tidak langsung terlihat. Tapi berhubung kita sudah panik, langsung kuputuskan untuk membawanya lagi ke UGD RS. IMC Bintaro. Sepanjang perjalanan, kejang di wajahnya mulai berhenti, tinggalkejang di tangannya. Dan sesampainya di RS, kejangnya hanya tinggal sedikit sekali dan Jenna seperti dalam keadaan lemas setengah sadar. Belakangan aku baru tahu kalau memang efek si stesolid itu membuat 'fly' penggunanya, sehingga tidak boleh diberikan lebih dari sekali dalam kurun waktu 24 jam.

DI RS, Jenna diberi oksigen dan di tes darahnya. Karena menurut dokter jaga-nya, dahaknya sangat banyak. Ketika hasil tes darah keluar ternyata memang kadar leukositnya di atas ambang batas normal sehingga dokternya membekali kami dengan antibiotik. Selain itu kami juga kembali dibekali dengan stesolid dan dianjurkan untuk berkonsultasi kembali dengan Dokter Spesialis Syaraf karena kejang tanpa demam bisa berpotensi epilepsi. Oya, di RS. IMC Bintaro, kami menggunakan BPJS kesehatan yang Alhamdulilah, untuk kasus emergency ini semuanya tercover sehingga kami tidak perlu membayar sepeser pun. Yang kalau harus membayar, aku lihat di kuitansinya bisa dikenakan biaya sekitar Rp600.000 rupiah. 

Oya, waktu itu kejangnya sempat di dokumentasikan. Bisa di cek di video ini ya:


Baca juga: Pengalaman Melahirkan dengan BPJS di RS. IMC Bintaro 

Singkat cerita, keesokan harinya aku langsung membawa Jenna untuk EEG di RS. Eka Hospital. Setelah pagi harinya membuat janji via telpon, kami mendapat jadwal EEG ukul 2 siang. Oleh petugasnya diwanti-wanti agar anaknya jangan tidur dulu agar ketika EEG bisa tidur. Karena ternyata ketika EEG ada fase tidur yang harus dilalui.

Yah, namanya bocah yang biasa tidur siang, baru jam 12 dia udah  ngantuk berat. Udah aku paksa- paksa bangun yanga da dia merem sambil duduk. Kasian juga sih, jadi aku biarin tidur aja barang setengah jam.

Alhamdulilahnya pas di EEG ternyata gak perlu tidur beneran, yang penting anaknya anteng gak gerak- gerak dan kalau bisa merem. Alhamdulilah Jenna koperatif walaupun mesti diceritain macem-macem biar dia anteng dan gak main-mainin kabel yang nempel di kepalanya. Oya, EEG di RS. Eka Hospital ini menghabiskan biaya sebesar Rp. 600.000 dan RS. Eka Hospital belum bekerjasama dengan BPJS. Jadi kalau mau EEG disini memang harus menggunakan dana pribadi atau asuransi lain yang bekerjasama :D 

Hasil EEG bisa diambil besok sore-nya sekalian konsultasi dengan dr. Handry di klinik Anakku BSD. Alhamdulilah hasil EEG-nya normal. Namun memang ketika melihat video kejangnya Jenna, menurut dr. Handry itu memang kejang epilepsi. Namun karena tidak tampak di EEG dan jangka waktu antar kejangnya cukup lama, bisa jadi ini jenis epilepsi yang ringan dan mudah-mudahan akan hilang seiring dengan bertambahnya usia. Namun jika nanti kejang lagi dalam rentang waktu di bawah 6 bulan,baru akan dipertimbangkan penggunaan kembali OAE.

Lalu reaksiku bagaimana? Ya, tidak bagaimana-bagaimana. Sama dengan reaksiku di artikel ketika dokter mendiagnosa Cerebral Palsy. Aku langsung mencari info tentang kejang tanpa demam dan bergabung di grup WhatsApp orang tua dengan anak penyandang epilepsi. Dan, lagi-lagi aku bersyukur bahwa kondisi Jenna jauh lebih baik dengan anak-anak penderita epilepsi lainnya. Dan apa yang kulakukan nggak ada seujung kukunya dengan yang sudah dilakukan oleh para orang tua hebat yang memiliki anak-anak spesial lainnya.

Kesimpulannya, jika anak kita mengalami kejang tanpa demam, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:
1. Stay calm.
2. Miringkan anak agar kalau ada air liur yang keluar tidak masuk ke jalur nafasnya. 
3. Jangan menahan gerakan kejang, biarkan berhenti dengan sendirinya. PAstikan saja tidak ada benda-benda yang bisa membahayakan di sekitarnya.
2. Lihat lama kejang, kalau sudah lebih dari 5 menit dan belum berhenti, lebih baik gunakan stesolid atau obat anti kejang lainnya yang dimasukan lewat anus. Kalau tidak punya, langsung bawa ke Rumah Sakit. 
3, Videokan kejangnya, agar bisa ditunjukan ke dokter jika mau berkonsultasi.
4. Kalau kejangnya berulang, catat durasi dan rentang waktu terjadinya, karena kejang tanpa demam yang berulang hampir bisa dipastikan adalah epilepsi.
5. Konsultasikan ke dokter syaraf jika jarak antar satu kejang ke kejangnya di bawah rentang 6 bulan.

Itulah kira-kira pengalamanku menangani kejang tanpa demam yang terjadi dengan anakku. Memiliki anak dengan riwayat kejang juga? Yuk, berbagi di kolom komentar!





Share this:

,

CONVERSATION

7 comments:

  1. pas kecil dulu aku srg kena kejang tapi krn demam mbak.. alhamdulillah semakin gede, udh ilang total sih, ga pernah ngalamin lagi..

    jujurnya agak takut kalo dgr epilepsi ini, krn 2 temenku ada yg mengidap ini, dan mengalami kecelakaan... ga nakut2in ya mbak, cuma sekedar sharing.. bukan epilepsinya yg membunuh sbnrnya, tp krn saat itu temenku ini sdg membawa motor, dan tiba2 epilepsinya kambuh, menyebabkan motornya juga ga bisa dikendalikan, berujung di kecelakaan...

    semoga kejang2nya jenna memng ga separah epilepsi temen2ku ini ya, dan bisa hilang seiring umur... :)..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, amiinn.. selama ini sih kejangnya jenna hanya terjadi kalau dia tidur aja. aku juga berharap mudah-mudahan kayak mbak gitu, kejangnya menghilang siring dengan bertambahnya usia :)

      Delete
  2. Mbak Sara,saya arif di bekasi, saya punya adik kandung yg mengalami kejang sangat mirip dengan jenna, bedanya adik saya tidak sempat mendapatkan penangan yg maksimal karena tinggal jauh di kampung bersama orangtua saya, sebenarnya banyak yg saya mau tanyakan tapi tadi saya sempat baca di artikel di atas bahwa ada grup whatsapp khusus orangtua yg memiliki anak dengan gejala kejang seperti itu, kalau tidak keberatan bolehkah saya ikut bergabung, saya pikir akan sangat membantu saya dan keluarga untuk pengobatan adik saya, 081388226936 ini nomor wa saya, maaf sebelumnya kalau kurang berkenan, terimakasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kebetulan adminnya bukan saya mas, nanti saya coba bilang adminya dulu ya

      Delete
  3. Mbak bolehkah saya ikut groub wa juga. Saya juga mempunyai pengalaman yang sama debgan jenna ni nomer wa saya 085130330478

    ReplyDelete
    Replies
    1. maaf mas ,kebetulan saya left dari grupnya..

      Delete
  4. Mbak bolehkah saya ikut groub wa juga. Saya juga mempunyai pengalaman yang sama debgan jenna ni nomer wa saya 085130330478

    ReplyDelete

Silahkan tanya apa saja ya ^^